Insentif Kelar, Harga Changan Langsung Melesat Rp60 Juta!

Insentif Kelar, Harga Changan Langsung Melesat Rp60 Juta!

Insentif Kelar, Harga Changan Langsung Melesat Rp60 Juta Yang Membuat Lonjakan Tersebut Cukup Terasa Di 2026. Pasar kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia resmi memasuki fase baru pada awal 2026. Setelah beberapa tahun di topang kini Insentif Kelar. Dan Pajak Pertambahan Nilai Di tanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 10 persen telah berakhir. Karena dampaknya langsung terasa, terutama pada harga jual mobil listrik di dalam negeri. Salah satu produsen yang bergerak cepat menyesuaikan harga adalah Changan Indonesia. Kenaikan harga ini menjadi sinyal kuat bahwa peta persaingan EV Tanah Air akan berubah. Dan juga konsumen pun kini di hadapkan pada pilihan yang lebih realistis. Tentunya antara kebutuhan mobil ramah lingkungan. Dan konsekuensi harga yang tak lagi “di manjakan” oleh insentif negara. Jadi harga tersebut cukup mengejutkan karena kini Insentif Kelar.

Berakhirnya Insentif Jadi Titik Balik Pasar EV

Selama masa insentif berlaku, mobil listrik yang di produksi secara lokal atau CKD dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) minimal 40 persen hanya di kenakan PPN sebesar 2 persen. Skema ini terbukti efektif mendorong minat beli masyarakat. Serta sekaligus menarik produsen global untuk berinvestasi di Indonesia. Namun memasuki 2026, kebijakan tersebut resmi di hentikan. Tarif PPN kini kembali ke angka normal, yakni 12 persen. Artinya, beban pajak yang harus di tanggung konsumen melonjak signifikan. Kondisi ini otomatis memaksa produsen melakukan penyesuaian harga. Tentunya agar tetap sejalan dengan aturan yang berlaku. Babak baru industri EV pun di mulai. Serta dengan tantangan yang lebih nyata dari sisi harga dan daya beli.

Changan Resmi Naikkan Harga, Dampaknya Terasa Langsung

Changan Indonesia menjadi salah satu merek yang secara terbuka menyesuaikan harga jual produknya. Kenaikan ini terlihat jelas di situs resmi mereka. Model SUV listrik Deepal S07 kini di banderol Rp 659 juta. Kemudian naik cukup tajam dari harga sebelumnya yang berada di angka Rp 599 juta. Artinya, terjadi lonjakan sekitar Rp 60 juta hanya dalam hitungan bulan. Tak hanya itu, mobil listrik mungil Changan Lumin juga ikut terdampak. Dari harga peluncuran awal Rp 178 juta. Namun kini Lumin di jual dengan banderol Rp 199 juta. Maka kenaikan ini menunjukkan bahwa segmen entry-level pun tak luput. Tentunya dari efek berakhirnya insentif pajak. Bagi konsumen, selisih belasan hingga puluhan juta rupiah. Serta yang menjadi pertimbangan besar sebelum memutuskan membeli EV.

Pernyataan CEO Changan: Ikuti Aturan, Bukan Pilihan

Menanggapi situasi ini, CEO Changan Indonesia, Setiawan Surya, angkat bicara. Tentunya pada saat di temui di sela peresmian diler baru Changan. Ia menegaskan bahwa penyesuaian harga dilakukan sebagai bentuk kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku. Menurutnya, perusahaan tidak memiliki ruang untuk menghindari kebijakan pajak yang telah d itetapkan pemerintah. Setiawan juga mengakui bahwa kondisi pasar saat ini cukup menantang. Meski demikian, Changan tetap optimistis terhadap potensi kendaraan listrik di Indonesia. Terlebihnya dalam jangka panjang. Ia menilai transisi menuju mobilitas ramah lingkungan tetap akan berjalan. Meskipun dengan kecepatan yang mungkin tidak seagresif saat insentif masih tersedia.

Masa Depan EV Indonesia Setelah Insentif Berakhir

Berakhirnya insentif PPN DTP menandai fase kedewasaan pasar EV nasional. Kini, daya saing produk akan lebih di tentukan oleh kualitas, teknologi, layanan purna jual. Serta efisiensi produksi, bukan semata-mata harga murah akibat subsidi. Produsen di tuntut lebih kreatif. Sementara konsumen akan menjadi lebih selektif. Di sisi lain, kondisi ini juga bisa mendorong industri untuk mempercepat lokalisasi produksi. Dan meningkatkan TKDN agar biaya bisa di tekan. Bagi pemerintah, tantangannya adalah menjaga keseimbangan antara penerimaan pajak. Serta target transisi energi bersih.

Sementara bagi konsumen, kenaikan harga Changan dan merek lainnya menjadi pengingat bahwa era “bulan madu” insentif EV telah usai. Meski harga naik, perjalanan kendaraan listrik di Indonesia masih panjang. Tahun 2026 menjadi titik krusial. Dan apakah pasar EV mampu bertahan secara alami, atau justru melambat tanpa dorongan insentif. Satu hal yang pasti, keputusan Changan menaikkan harga adalah potret nyata perubahan lanskap industri otomotif nasional. Jadi harga tersebut yang melonjak bisa sampai 60 juga cukup terasa karena Insentif Kelar.