
Alarm Merah! Banjir Berulang Jadi Bukti Hutan Tak Lagi Sehat
Alarm Merah! Banjir Berulang Jadi Bukti Hutan Tak Lagi Sehat Dalam Peringatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Banjir yang datang berulang dalam waktu berdekatan bukan lagi sekadar fenomena cuaca ekstrem. Badan Riset dan Inovasi Nasional atau Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberi Alarm Merah. Terlebihnya dengan frekuensi banjir yang makin sering menjadi alarm merah bahwa kondisi hutan Indonesia tidak lagi sehat. Pernyataan ini bukan tanpa dasar. Namun melainkan hasil kajian ilmiah yang mengaitkan kerusakan tutupan lahan dengan meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai wilayah di Indonesia mengalami banjir berulang meski intensitas hujan tidak selalu ekstrem. Fakta ini memunculkan pertanyaan besar: apakah daya dukung lingkungan sudah melemah? Berikut fakta-fakta terkini yang memperkuat Alarm Merah tersebut.
Deforestasi Dan Hilangnya Daya Serap Air
Salah satu sorotan utama BRIN adalah Deforestasi Dan Hilangnya Daya Serap Air. Hutan yang sehat seharusnya berfungsi sebagai penyerap air alami. Akar-akar pohon membantu menahan air hujan agar meresap ke dalam tanah. Akan tetapi bukan langsung mengalir ke sungai. Namun, ketika hutan mengalami deforestasi atau alih fungsi lahan, kemampuan tersebut berkurang drastis. Transisinya jelas: air yang seharusnya tersimpan di tanah kini mengalir cepat ke hilir, meningkatkan risiko banjir. Bahkan hujan dengan intensitas sedang pun dapat memicu genangan besar. Data terbaru menunjukkan bahwa banyak kawasan penyangga air telah berubah menjadi area perkebunan, permukiman, atau pertambangan. Perubahan ini berdampak langsung pada keseimbangan ekosistem. Dengan kata lain, banjir berulang bukan hanya soal cuaca. Akan tetapi juga akibat tekanan terhadap lingkungan.
Perubahan Iklim Memperparah Kondisi
Selain deforestasi, faktor Perubahan Iklim Memperparah Kondisi. Pola hujan menjadi semakin tidak menentu, dengan periode hujan lebat yang lebih singkat namun intens. Kondisi ini menciptakan lonjakan debit air dalam waktu cepat. BRIN menekankan bahwa kombinasi antara kerusakan hutan dan cuaca ekstrem menciptakan risiko berlipat ganda. Transisi dari curah hujan normal ke hujan intens kini lebih sulit di kendalikan. Karena daya serap lahan telah menurun. Tak hanya itu, peningkatan suhu global juga memengaruhi siklus air. Uap air di atmosfer bertambah,. Sehingga potensi hujan deras meningkat. Jika hutan tidak lagi berfungsi optimal sebagai penyangga, dampaknya langsung terasa di kawasan hilir. Oleh sebab itu, isu banjir berulang tidak bisa di pisahkan dari konteks perubahan iklim global. Ini menjadi peringatan bahwa adaptasi dan mitigasi harus berjalan beriringan.
Dampak Sosial Dan Ekonomi Yang Kian Nyata
Banjir berulang membawa Dampak Sosial Dan Ekonomi Yang Kian Nyata. Rumah warga rusak, infrastruktur lumpuh, hingga aktivitas ekonomi terganggu. Dalam jangka panjang, biaya pemulihan jauh lebih besar di bandingkan upaya pencegahan. Transisinya semakin mengkhawatirkan ketika banjir mulai terjadi di wilayah yang sebelumnya relatif aman. Hal ini menunjukkan bahwa degradasi lingkungan telah mencapai titik kritis. Ketika hutan tidak lagi sehat, masyarakat di sekitarnya menjadi pihak pertama yang merasakan dampaknya. Selain itu, sektor pertanian juga terdampak. Lahan pertanian yang terendam berulang kali berpotensi mengalami penurunan produktivitas. Situasi ini dapat mengganggu ketahanan pangan lokal.
Menanggapi peringatan keras ini, para peneliti BRIN mendorong langkah konkret seperti rehabilitasi hutan dan penguatan pengelolaan daerah aliran sungai. Reboisasi menjadi solusi jangka panjang yang tidak bisa di tunda. Transisi menuju pengelolaan berkelanjutan harus melibatkan berbagai pihak. Tentunya mulai dari pemerintah daerah hingga masyarakat. Pengawasan terhadap alih fungsi lahan perlu di perketat. Sementara edukasi publik tentang pentingnya hutan harus terus di gencarkan. Selain itu, pembangunan infrastruktur hijau seperti sumur resapan dan ruang terbuka hijau juga dapat membantu meningkatkan daya serap air. Kombinasi kebijakan ekologis dan adaptasi iklim menjadi kunci untuk mengurangi risiko banjir di masa depan. Dan banjir berulang tersebutlah yang jadi Alarm Merah.