
Jakarta Terus Mencari Cara Untuk Menjawab Kebutuhan Warganya Akan Ruang Publik yang Layak di Tengah Kepadatan Kota dan Keterbatasan Lahan.
Jakarta Terus Mencari Cara Untuk Menjawab Kebutuhan Warganya Akan Ruang Publik yang Layak di Tengah Kepadatan Kota dan Keterbatasan Lahan. Pemanfaatan ruang-ruang tak terpakai, termasuk area di bawah infrastruktur besar, menjadi salah satu strategi yang kini semakin di optimalkan oleh pemerintah daerah.
Jakarta kembali menunjukkan upayanya memperluas ruang terbuka hijau di tengah keterbatasan lahan perkotaan. Kali ini, sebuah area yang sebelumnya identik dengan beton, kendaraan berat, dan kebisingan di sulap menjadi ruang publik yang ramah warga. Di kolong Tol Dalam Kota ruas Kelapa Gading–JORR, tepatnya di Jalan Raya Bekasi, Cakung, Jakarta Timur, berdiri sebuah taman baru bernama Taman Gapura Muka Cakung.
Lokasinya terbilang tidak biasa. Di satu sisi taman berbatasan langsung dengan jalan raya yang kerap di lalui truk dan kontainer, sementara di sisi lainnya berdiri struktur tol layang yang selama ini di anggap sebagai ruang mati kota. Namun, lewat sentuhan penataan dan desain ruang publik, area seluas sekitar 1.500 meter persegi itu kini berubah menjadi taman kota yang hidup, berwarna, dan dapat diakses oleh berbagai kalangan.
Kehadiran Taman Gapura Muka Cakung menunjukkan bagaimana ruang bawah infrastruktur dapat dimanfaatkan secara produktif. Alih-alih dibiarkan gelap dan kumuh, kolong tol ini kini menjadi tempat warga beraktivitas dan bersantai. Warga juga dapat berinteraksi sosial di area ini. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berharap taman ini tidak hanya menjadi tempat singgah. Taman diharapkan juga menjadi simbol transformasi wajah Jakarta Timur yang lebih ramah lingkungan dan manusiawi.
Fasilitas Lengkap dan Desain Inklusif untuk Semua Kalangan
Mengusung konsep ruang publik modern, Taman Gapura Muka Cakung hadir dengan Fasilitas Lengkap dan Desain Inklusif untuk Semua Kalangan, mulai dari anak-anak, orang dewasa, hingga penyandang disabilitas dan lansia. Penataan taman ini tidak hanya menitikberatkan pada estetika, tetapi juga pada aspek kenyamanan, keamanan, serta kemudahan akses bagi seluruh pengunjung.
Sebagai taman kota, Taman Gapura Muka Cakung di rancang dengan pendekatan inklusif. Jalur pejalan kaki di buat cukup lebar dan tertata rapi, memungkinkan pengunjung berjalan dengan nyaman tanpa harus berbagi ruang dengan kendaraan. Di sepanjang jalur tersebut, tersedia guiding block yang membantu penyandang disabilitas netra bernavigasi secara mandiri.
Tak hanya itu, taman ini juga ramah bagi lansia. Beberapa titik di lengkapi area refleksi kaki, yang kerap di manfaatkan warga untuk terapi ringan maupun relaksasi. Tempat duduk tersedia di berbagai sudut taman, memungkinkan pengunjung beristirahat sambil menikmati suasana di tengah hiruk-pikuk kota.
Untuk anak-anak, di sediakan area bermain yang aman dan mudah di awasi. Kehadiran ruang bermain ini menjadi nilai tambah, mengingat kawasan sekitar di dominasi oleh aktivitas lalu lintas dan industri. Dengan adanya taman, anak-anak di sekitar Cakung kini memiliki ruang alternatif untuk bermain di luar rumah.
Dari segi visual, taman ini tampil mencolok dengan dominasi warna biru yang memberi kesan segar sekaligus modern. Sejumlah tiang tanaman vertikal berdiri di area taman, menghadirkan nuansa estetika yang mengingatkan pada taman-taman kota di luar negeri, seperti Gardens by the Bay di Singapura. Elemen hijau ini bukan hanya mempercantik tampilan, tetapi juga membantu memperbaiki kualitas udara di sekitar jalan raya yang padat.
Komitmen Pemprov DKI: Keamanan, Kenyamanan, dan Aksesibilitas
Pembangunan Taman Gapura Muka Cakung juga mencerminkan Komitmen Pemprov DKI: Keamanan, Kenyamanan, dan Aksesibilitas sebagai prinsip utama dalam pengelolaan ruang publik. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menegaskan bahwa keberadaan taman kota tidak hanya sebatas menyediakan ruang hijau, tetapi juga memastikan pengunjung dapat beraktivitas dengan aman, nyaman, serta mudah di akses oleh seluruh lapisan masyarakat.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, meninjau langsung Taman Gapura Muka Cakung pada Selasa pagi, 6 Januari 2026. Dalam kunjungan tersebut, ia menyampaikan bahwa taman ini masih akan terus di kembangkan. Pengembangan di lakukan menyesuaikan kebutuhan warga di sekitar lokasi.
Menurut Pramono, terdapat tiga fasilitas yang paling banyak di minta warga. Fasilitas tersebut meliputi akses WiFi gratis, toilet umum, dan tambahan penerangan. Ketiganya di nilai penting untuk mendukung aktivitas warga. Fasilitas itu juga meningkatkan kenyamanan pengunjung, terutama pada sore dan malam hari. Pemerintah memastikan pemenuhannya di lakukan secara bertahap.
Aspek keamanan turut menjadi perhatian pemerintah daerah. Lokasi taman berada di kawasan terbuka dan berdekatan dengan jalan raya. Karena itu, Pemprov DKI berencana memasang kamera CCTV di sejumlah titik. Langkah ini di harapkan mampu meningkatkan rasa aman. CCTV juga berfungsi mencegah tindak kriminal dan vandalisme.
Pemerintah juga merespons persoalan aksesibilitas. Posisi taman yang berhadapan dengan halte TransJakarta membuat penyeberangan menjadi krusial. Pemprov DKI pun berencana membangun pelican crossing. Jalur penyeberangan ini akan di lengkapi lampu lalu lintas. Fasilitas tersebut membantu warga menyeberang dengan aman. Keberadaannya juga mendukung integrasi dengan transportasi publik.
Ruang Interaksi Baru dan Tantangan Pengelolaan ke Depan
Keberadaan Taman Gapura Muka Cakung tidak hanya di pandang sebagai penambahan ruang terbuka hijau, tetapi juga sebagai Ruang Interaksi Baru dan Tantangan Pengelolaan ke Depan bagi pemerintah dan masyarakat. Di satu sisi, taman ini membuka peluang lahirnya aktivitas sosial warga, namun di sisi lain menuntut pengelolaan dan pengawasan yang berkelanjutan agar fungsi ruang publik tetap terjaga.
Lebih dari sekadar taman, Taman Gapura Muka Cakung diharapkan menjadi ruang interaksi sosial baru bagi warga Jakarta Timur. Sejak di buka, taman ini mulai di manfaatkan warga untuk berbagai aktivitas, mulai dari berjalan santai, mengobrol, hingga sekadar duduk menikmati suasana sore. Kehadirannya memberi alternatif ruang berkumpul yang selama ini minim di kawasan padat tersebut.
Namun demikian, pengelolaan taman tetap menjadi tantangan. Pramono menyebutkan bahwa taman ini belum di rencanakan beroperasi selama 24 jam. Pertimbangan utama adalah pengawasan dan pemeliharaan, agar fungsi taman tetap terjaga dan tidak di salahgunakan. Pemerintah ingin memastikan bahwa taman tetap bersih, aman, dan nyaman bagi semua pengunjung.
Keberhasilan taman ini juga sangat bergantung pada partisipasi masyarakat. Kesadaran warga untuk menjaga fasilitas, tidak merusak tanaman, serta menggunakan ruang publik secara bertanggung jawab menjadi kunci keberlanjutan taman. Tanpa dukungan warga, taman yang di bangun dengan anggaran dan perencanaan matang pun berisiko mengalami degradasi.
Meski demikian, Taman Gapura Muka Cakung memberikan harapan baru tentang masa depan ruang publik di Jakarta. Ia membuktikan bahwa keterbatasan lahan bukan alasan untuk berhenti berinovasi. Dengan memanfaatkan ruang-ruang sisa kota, Jakarta dapat terus menambah ruang hijau, memperbaiki kualitas hidup warganya, dan menghadirkan kota yang lebih inklusif serta berkelanjutan.
Di tengah padatnya Jakarta Timur, taman di bawah kolong tol ini menjadi simbol perubahan, dari ruang yang sebelumnya terabaikan menjadi ruang publik yang bermakna. Jika dikelola secara konsisten, Taman Gapura Muka Cakung tidak hanya berpotensi menjadi kebanggaan warga sekitar, tetapi juga inspirasi bagi pengembangan ruang publik di berbagai wilayah Jakarta.