Tanah Ambles di Gunungkidul Paksa Warga Bongkar Rumah

Tanah Ambles Mengkhawatirkan Warga Wilayah Selatan Daerah Istimewa Yogyakarta, Kawasan Struktur Tanah Kapur dan Rongga Bawah Permukaan

Tanah Ambles Mengkhawatirkan Warga Wilayah Selatan Daerah Istimewa Yogyakarta, Kawasan Struktur Tanah Kapur dan Rongga Bawah Permukaan. Perubahan kondisi tanah yang terjadi secara perlahan kerap tidak terdeteksi sejak awal, hingga akhirnya memicu kerusakan serius pada bangunan dan mengancam keselamatan penghuni. Dalam beberapa kasus, amblesan muncul tiba-tiba di area permukiman, memaksa warga mengungsi dan meninggalkan rumah yang sudah tidak lagi aman untuk di tempati.

Peristiwa Tanah Ambles kembali terjadi di wilayah Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kali ini, amblesan tanah menimpa sebuah rumah warga di Padukuhan Bolang, Kalurahan Girikarto, Kapanewon Panggang. Kejadian tersebut menyebabkan bagian dalam rumah mengalami rongga besar dengan kedalaman mencapai sekitar tiga meter dan lebar enam meter.

Peristiwa yang di ketahui warga pada Rabu pagi, 7 Januari 2026 itu, tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik bangunan, tetapi juga memaksa satu keluarga meninggalkan tempat tinggalnya. Rumah yang awalnya masih di tempati akhirnya di bongkar karena di nilai sudah tidak layak huni dan berpotensi membahayakan keselamatan penghuninya.

Menurut Sujanto, pemilik rumah, tanda-tanda kerusakan sudah terlihat dari bagian belakang bangunan. Fondasi rumah menurun secara bertahap hingga akhirnya di ketahui bahwa ada rongga besar di bawah bangunan. Tidak mungkin lagi mengabaikan peringatan bahaya ini.

Sujanto segera melaporkan situasi tersebut kepada ketua RT dan dukuh setempat, serta kepada pihak yang bertanggung jawab. Risiko amblesan lanjutan sangat tinggi karena rongga di bawah rumah terus meluas, seperti yang di tunjukkan oleh pemeriksaan awal. Keluarga Sujanto akhirnya memutuskan untuk meninggalkan rumah mereka dan mengungsi sementara ke tempat yang lebih aman untuk menghindari kemungkinan runtuh bangunan secara tiba-tiba. Mereka menunggu tindakan lebih lanjut dari pemerintah daerah.

Fondasi Turun dan Upaya Darurat yang Gagal

Fondasi Turun dan Upaya Darurat yang Gagal menjadi gambaran awal dari kondisi rumah Sujanto sebelum akhirnya di bongkar seluruhnya. Penurunan tanah yang terjadi secara perlahan sempat di tangani dengan cara-cara sederhana, namun tidak memberikan hasil yang di harapkan. Upaya awal yang di lakukan justru menunjukkan bahwa kerusakan di bawah bangunan jauh lebih serius dari perkiraan dan tidak bisa di selesaikan dengan penanganan darurat semata.

Menurut penuturan Sujanto, penurunan tanah bermula dari bagian fondasi belakang rumah. Awalnya, ia mencoba memastikan kondisi tanah dengan cara sederhana, yakni memasukkan bambu ke celah yang terbentuk. Namun hasilnya justru membuatnya khawatir.

“Bambu yang di masukkan tidak bisa mencapai dasar, artinya di bawahnya memang kosong,” ujarnya saat di temui di lokasi, Jumat (9/1/2026).

Kondisi tersebut kemudian di laporkan kepada ketua RT, dukuh setempat, hingga Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul. Setelah laporan di terima, di lakukan upaya penanganan awal dengan penyiraman air ke area amblesan untuk memastikan kondisi tanah. Namun langkah tersebut justru memperparah keadaan.

Satu tangki air yang di siramkan ke lokasi membuat tanah semakin turun dan rongga semakin melebar. Melihat kondisi yang kian memburuk, pihak terkait akhirnya menyatakan rumah tersebut tidak aman untuk di tempati.

Sujanto mengaku berat hati harus membongkar rumah yang telah ia tempati bertahun-tahun. Namun demi keselamatan keluarga, keputusan itu harus di ambil. Ia juga mengungkapkan kekhawatirannya jika perbaikan hanya di lakukan dengan cara pengurugan atau pengecoran.

“Kalau cuma di urug dan di cor, saya takut nanti kejadian seperti ini terulang lagi,” katanya.

Rongga Besar di Tengah Rumah, Warga Terpaksa Mengungsi

Rongga Besar di Tengah Rumah, Warga Terpaksa Mengungsi menjadi kenyataan pahit yang harus di hadapi keluarga Sujanto setelah kondisi bangunan di nilai semakin berbahaya. Amblesan tanah yang berada di bagian tengah rumah membuat struktur bangunan tidak lagi stabil dan berisiko runtuh sewaktu-waktu. Demi keselamatan, keluarga tersebut akhirnya memilih meninggalkan rumah dan mengungsi sementara ke tempat yang lebih aman.

Dukuh Bolang, Sukirjo, menjelaskan bahwa tanah ambles pertama kali diketahui pada Rabu pagi sekitar pukul 08.00 WIB. Saat itu, Sujanto sedang membersihkan rumah dan mendapati adanya lubang di bagian fondasi.

Setelah dilakukan pengecekan lebih lanjut, rongga ternyata tidak hanya berada di satu titik. Area dapur hingga bagian tengah rumah sudah menunjukkan kekosongan tanah yang cukup luas. Berdasarkan pengukuran sementara, amblesan memiliki lebar sekitar enam meter, panjang empat meter, dan kedalaman kurang lebih tiga meter.

“Kondisinya cukup berbahaya karena amblesan berada di tengah bangunan. Kalau di paksakan di huni, risikonya sangat tinggi,” ujar Sukirjo.

Akibat kejadian tersebut, Sujanto bersama istri dan tiga anaknya terpaksa mengungsi sementara ke rumah orang tuanya yang berada tidak jauh dari lokasi. Keputusan mengungsi di ambil untuk menghindari risiko amblesan lanjutan yang sewaktu-waktu bisa terjadi.

Warga sekitar pun bergerak cepat membantu keluarga terdampak. Melalui kerja bakti, mereka bergotong royong menurunkan genteng, memindahkan perabotan, serta menyelamatkan barang-barang berharga dari dalam rumah.

“Sebagian genteng sudah di turunkan, perabotan juga di pindahkan supaya tidak tertimbun kalau bangunan runtuh,” kata Sukirjo.

Solidaritas warga menjadi penopang penting di tengah situasi darurat tersebut. Meski demikian, kekhawatiran tetap menyelimuti warga sekitar, terutama karena wilayah Panggang di kenal memiliki kondisi tanah karst yang rawan runtuhan bawah tanah.

BPBD Lakukan Kajian, Kerugian Capai Puluhan Juta Rupiah

BPBD Lakukan Kajian, Kerugian Capai Puluhan Juta Rupiah menjadi sorotan setelah rumah warga di Padukuhan Bolang rusak parah akibat amblesan tanah. Kerusakan ini tidak hanya mengganggu hunian, tetapi juga menimbulkan kerugian materiil. Untuk itu, kajian menyeluruh diperlukan untuk menilai risiko lanjutan dan kebutuhan bantuan bagi keluarga terdampak.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul, Edy Winarta, membenarkan peristiwa tanah ambles tersebut. Pihaknya telah mengecek langsung lokasi dan menyalurkan bantuan logistik untuk keluarga yang terdampak.

“Hasil kajian awal, kerugian sementara di perkirakan sekitar Rp10 juta,” ujar Edy.

BPBD masih mendalami penyebab amblesan dan langkah penanganan jangka panjang. Kajian teknis di perlukan untuk menentukan apakah lokasi bisa di bangun kembali atau harus di relokasi.

Edy menambahkan, fenomena tanah ambles di Gunungkidul selatan bukan kali pertama terjadi. Struktur tanah kapur dengan rongga alami membuat wilayah ini rawan ambles. Risiko meningkat saat hujan deras atau ada perubahan struktur tanah akibat aktivitas manusia.

BPBD mengimbau warga segera melapor jika menemukan retakan tanah, penurunan lantai, atau lubang tidak wajar di sekitar rumah. Deteksi dini penting untuk mencegah korban jiwa dan kerugian materiil akibat amblesan susulan.

Sementara itu, Sujanto berharap pemerintah daerah memberi solusi terbaik bagi keluarganya. Relokasi menjadi opsi demi keselamatan. Ia menilai peristiwa ini mengingatkan bahwa amblesan tanah yang terjadi perlahan sering luput dari perhatian, tetapi dapat berdampak serius bagi warga.

Peristiwa ini menjadi peringatan bagi seluruh warga untuk selalu waspada terhadap perubahan tanah di sekitar rumah. Pemantauan rutin dan tindakan cepat dapat mencegah kerugian lebih besar. Langkah ini juga menjaga keselamatan keluarga dari bahaya tersembunyi di bawah permukaan. Ancaman itu adalah Tanah Ambles.