
AI Ancam Iklim? Ini Kata Pakar Soal Ajakan Setop Penggunaan
AI Ancam Iklim? Ini Kata Pakar Soal Ajakan Setop Penggunaan Yang Menjadi Hangat Di Perbicangkan Karena Banyak Dampaknya. Halo para pengamat teknologi dan peduli lingkungan yang kritis! Kecerdasan Buatan ini telah merevolusi hampir setiap aspek kehidupan kita. Terlebihnya dari cara kita bekerja hingga cara kita bersosialisasi. Namun, di tengah euforia kemajuan ini, muncul sebuah isu serius yang kini menjadi perdebatan hangat: Benarkah gelombang penggunaannya saat ini. Tentunya yang menjadi ancaman baru bagi krisis cuaca global? Baru-baru ini, jagad maya di ramaikan oleh ajakan radikal untuk menghentikan penggunaannya. Kemudian di dorong oleh kekhawatiran mengenai konsumsi energi yang masif oleh data center dan proses training model yang haus daya. Konon, jejak karbonnya semakin memburuk dan mempercepat pemanasan global. Apakah kita berada di persimpangan jalan. Terlebihnya di mana inovasi teknologi harus di bayar mahal dengan kerusakan planet? Mari kita cari tahu, apakah ketakutan tentang ‘AI Ancam Iklim?’ ini.
Mengenai ulasan tentang AI Ancam Iklim? ini kata pakar soal ajak setop penggunaan telah di lansir sebelumnya oleh kompas.com.
Konsumsi Energi Yang Sangat Besar
Hal ini menjadi salah satu isu terbesar yang memicu kekhawatiran publik. Terlebih hingga muncul ajakan untuk berhenti menggunakannya. Karena di anggap dapat memperburuk pemanasan global. Para pakar siber dan energi menjelaskan bahwa tingginya konsumsi energi ini berakar dari cara kerjanya yang membutuhkan daya komputasi sangat besar. Pada tahap pelatihan model atau training, sistem AI harus memproses miliaran hingga triliunan parameter. Tentunya yang berarti server harus bekerja terus-menerus selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Proses komputasi intensif ini menghabiskan energi listrik dalam jumlah sangat besar. Setelah model selesai di latih, konsumsi energi tidak berhenti. Proses inference atau penggunaannya sehari-hari. Contohnya seperti menjawab pertanyaan, menghasilkan gambar, atau menerjemahkan teks. Maka akan tetap membutuhkan daya komputasi tinggi. Karena ia di pakai oleh jutaan orang secara bersamaan.
AI Ancam Iklim? Ini Kata Pakar Soal Ajakan Setop Penggunaan Yang Masih Di Abaikan
Kemudian juga masih membahas AI Ancam Iklim? Ini Kata Pakar Soal Ajakan Setop Penggunaan Yang Masih Di Abaikan. Dan fakta lainnya adalah:
Emisi Karbon Dari Operasional & Infrastruktur
Tentunya hal ini muncul sebagai salah satu alasan utama mengapa sebagian masyarakat menyerukan untuk mengurangi. Bahkan berhenti menggunakan kecerdasan buatan. Para pakar siber menjelaskan bahwa setiap aktivitasnya. Baik pelatihan model maupun penggunaan sehari-hari—bergantung pada pusat data yang menyerap energi listrik sangat besar. Masalahnya, di banyak negara, listrik yang di gunakan pusat data masih bersumber dari pembangkit berbahan bakar fosil. Contohnya seperti batu bara dan gas. Karena itu, setiap kali modelnya di jalankan, ada emisi karbon tidak langsung yang di lepaskan ke atmosfer. Meskipun pengguna hanya mengetik pertanyaan sederhana di layar ponsel. Kemudian proses komputasi yang terjadi di belakang layar melibatkan ribuan inti prosesor, server. Serta sistem pendingin yang semuanya membutuhkan energi, dan energi tersebut meninggalkan jejak karbon. Operasionalnya yang paling intensif adalah tahap pelatihan model.
Para peneliti menemukan bahwa melatih satu modelnya besar dapat menghasilkan emisi karbon. tentu yang setara dengan perjalanan mobil puluhan hingga ratusan ribu kilometer. Hal ini terjadi karena pelatihan model membutuhkan daya komputasi yang berlangsung terus-menerus selama jangka waktu yang panjang. Setelah sebuah model selesai di latih, konsumsi energi tidak berhenti. Proses penggunaan harian atau inference juga memerlukan listrik. Dan karena melibatkan jutaan pengguna, dampak kumulatifnya menjadi besar. Jika sumber energi tersebut berasal dari pembangkit fosil. Maka setiap permintaan ke ia berarti menambah jejak karbon baru. Infrastruktur yang menopangnya juga meningkatkan emisi karbon secara signifikan. Pusat data memerlukan pendinginan masif karena menghasilkan panas. Sistem pendinginan ini tidak hanya memakai listrik tambahan yang besar. Akan tetapi dalam banyak kasus juga menggunakan air dalam jumlah banyak.
Stop Pakai Kecerdasan Buatan? Menganalisis Dampak Energinya Menurut Pakar
Selain itu, masih membahas Stop Pakai Kecerdasan Buatan? Menganalisis Dampak Energinya Menurut Pakar. Dan fakta lainnya adalah:
Laporan IMF Tentang Trade-off Ekonomi & Lingkungan
Hal ini menggambarkan bagaimana perkembangan kecerdasan buatan membawa hubungan yang kompleks. Terlebihnya antara manfaat ekonomi dan dampak lingkungan. Dalam kajian mereka, AI di proyeksikan menjadi pendorong besar pertumbuhan ekonomi global. Tentunya dengan potensi meningkatkan output dunia sekitar setengah persen setiap tahun pada periode 2025 hingga 2030. Pertumbuhan ini muncul dari efisiensi produksi yang meningkat, otomatisasi yang lebih cerdas. Dan hingga kemampuannya menciptakan sektor-sektor ekonomi baru. Namun, di balik potensi tersebut, IMF menegaskan adanya konsekuensi lingkungan yang tidak bisa di abaikan. Operasional AI yang semakin masif. Mulai dari pelatihan model, penggunaan pusat data, hingga infrastruktur digital. Kemudian di perkirakan menaikkan emisi gas rumah kaca secara global. Tambahan emisi ini di perkirakan mencapai lebih dari satu persen dari total emisi dunia dalam lima tahun.
Atau setara lebih dari satu gigaton jika kebijakan energi yang di gunakan masih bergantung pada sumber fosil. IMF kemudian menghitung “biaya sosial” dari kenaikan emisi tersebut dengan nilai sekitar US$39 per ton CO₂. Dengan perhitungan ini, biaya sosial dari ekspansinya dapat mencapai puluhan miliar dolar. Namun, yang menarik adalah bahwa jika di bandingkan dengan proyeksi keuntungan ekonomi dari adopsinya. Kemudian biaya ini hanya mencakup sebagian kecil dari nilai pertumbuhan yang di hasilkan. Dengan kata lain, secara ekonomi global, keuntungannya secara keseluruhan dinilai masih “lebih besar”. Terlebihnya daripada dampak lingkungan yang di timbulkan. Meski demikian, IMF menegaskan bahwa kesimpulan ini bukanlah pembenaran untuk mengabaikan persoalan lingkungan. Karena dampak emisi tetap signifikan dan akan semakin memburuk bila tidak di imbangi dengan kebijakan yang tepat. IMF juga menyoroti bahwa manfaatnya tidak akan di rasakan secara merata. Negara dengan infrastruktur digital kuat.
Stop Pakai Kecerdasan Buatan? Menganalisis Dampak Energinya Menurut Pakar Dengan Ragam Efeknya
Selanjutnya juga masih membahas Stop Pakai Kecerdasan Buatan? Menganalisis Dampak Energinya Menurut Pakar Dengan Ragam Efeknya. Dan fakta lainnya adalah:
Tekanan Pada Produsen Chip & Infrastruktur
Perkembangan kecerdasan buatan yang begitu cepat telah menimbulkan tekanan besar terhadap produsen chip. Dan juga dengan penyedia infrastruktur digital di seluruh dunia. Terlebih lonjakan permintaan terhadap teknologinya membuat perusahaan semikonduktor berpacu memproduksi chip. Tentunya dengan performa tinggi. Serta yang khusus di rancang untuk pelatihan dan inferensi model berbasis jaringan saraf besar. Chip-chip ini—seperti GPU, TPU, dan akselerator AI lainnya. Dan tidak hanya membutuhkan bahan baku yang kompleks dan mahal. Akan tetapi juga memerlukan proses manufaktur yang sangat intensif energi. Setiap tahap produksi, mulai dari litografi ultra halus hingga pemrosesan wafer berteknologi nanometer. Kemudian membutuhkan konsumsi listrik dalam jumlah sangat besar dan penggunaan air ultrapure dalam skala masif.
Karena itulah, tekanan untuk memenuhi permintaan pasarnya secara tidak langsung memperbesar jejak lingkungan. Tentunya dari industri semikonduktor global. Situasi ini semakin menegang karena produsen chip kini di tuntut untuk terus meningkatkan efisiensi sekaligus menurunkan konsumsi daya chip. Namun paradoks yang terjadi adalah: semakin canggih chipnya. Maka akan semakin besar pula kebutuhan energi untuk memproduksinya. Ketika perusahaan berlomba menghasilkan chip lebih kuat. Dan siklus produksi semakin cepat, dan fasilitas pabrik (fab) harus beroperasi hampir tanpa henti. Kondisi ini memperbesar emisi karbon yang berasal dari proses industri. Terutama di negara-negara yang masih mengandalkan listrik berbahan bakar fosil. Hal ini menjelaskan mengapa para pakar menganggap bahwa ekspansi ia bukan hanya soal konsumsi energi saat di gunakan. Namun juga jejak karbon sepanjang rantai produksi perangkat kerasnya.
Jadi itu dia beberapa fakta mengenai pernyataan pakar soal ajakan setop penggunaan terkait AI Ancam Iklim.