
Stop Bilang “Cuma Stres”, Risiko Burnout Pekerja Itu Nyata!
Stop Bilang “Cuma Stres”, Risiko Burnout Pekerja Itu Nyata Karena Seringkali Permasalahan Tersebut Di Anggap Biasa. Di tengah ritme kerja yang semakin cepat dan target yang terus menekan. Dan stres kerap di anggap sebagai “teman setia” para pekerja. Terlebihnya dengan lembur, tenggat waktu ketat. Kemudian hingga tuntutan untuk selalu produktif sering di pandang sebagai bukti profesionalisme. Sayangnya, cara pandang ini justru menempatkan banyak orang dalam jebakan berbahaya. Karena menganggap stres sebagai hal biasa. Lalu mengabaikannya hingga berdampak serius pada kesehatan mental. Maka sebaiknya untuk Stop bilang cuma stres saja. Psikolog Universitas Indonesia, Ayu S. Sadewo, S.Psi., menegaskan bahwa stres sering tidak di sadari. Karena sudah di normalisasi dalam keseharian kerja. Namun sebaiknya untuk Stop menganggap sepele. Berikut fakta-fakta penting yang di bedah para ahli terkait bahaya stres kerja yang kerap di remehkan.
Stres Di Normalisasi, Pekerja Kehilangan Alarm Bahaya
Menurut Ayu S. Sadewo, banyak pekerja tidak lagi mengenali stres sebagai sinyal bahaya. Karena lingkungan kerja turut menormalisasinya. Kalimat seperti “semua orang juga capek” atau “kalau mau sukses ya harus tahan banting”. Kemudian yang membuat individu menekan perasaan lelah, cemas, dan tertekan. Padahal, stres sejatinya adalah respons alami tubuh terhadap tekanan. Jika muncul sesekali dan di kelola dengan baik. Dan stres bisa memicu motivasi. Masalah muncul ketika stres berlangsung terus-menerus tanpa jeda pemulihan. Saat itulah tubuh dan pikiran mulai kewalahan. Namun pekerja tetap memaksakan diri karena merasa kondisi tersebut masih “normal”. Normalisasi stres ini berbahaya karena mematikan kesadaran diri. Pekerja kehilangan kemampuan untuk mengenali kapan mereka butuh istirahat, bantuan, atau perubahan pola kerja.
Gejala Stres Sering Tersamar Dalam Rutinitas Harian
Para ahli menyebut stres kronis sering kali tidak muncul dalam bentuk yang dramatis. Gejalanya justru samar dan perlahan. Terlebihnya seperti mudah lelah, sulit tidur, cepat marah, sulit fokus, hingga kehilangan minat pada hal-hal yang dulu menyenangkan. Karena gejalanya terasa “ringan”, banyak pekerja memilih mengabaikannya. Mereka mengira cukup dengan kopi, hiburan singkat. Atau tidur lebih lama di akhir pekan. Sayangnya, solusi tambal sulam ini tidak menyentuh akar masalah. Jika di biarkan, stres kronis dapat memengaruhi kesehatan fisik, mulai dari sakit kepala. Kemudian dengan gangguan pencernaan, hingga penurunan daya tahan tubuh. Dalam jangka panjang, tekanan mental yang tidak di tangani bisa berkembang menjadi gangguan kecemasan atau depresi.
Burnout Bukan Sekadar Lelah, Tapi Kondisi Serius
Burnout sering disalahartikan sebagai kelelahan biasa. Padahal, para ahli mendefinisikan burnout sebagai kondisi kelelahan emosional, mental. Serta dengan fisik akibat stres kerja yang berkepanjangan. Ciri utamanya adalah rasa hampa, sinis terhadap pekerjaan. Kemudian juga menurunnya performa secara signifikan. Ayu menjelaskan bahwa burnout membuat pekerja merasa terjebak. Mereka tetap datang ke kantor, menyelesaikan tugas. Akan tetapi tanpa energi dan keterlibatan emosional. Dalam kondisi ini, produktivitas justru menurun dan risiko kesalahan meningkat. Yang lebih mengkhawatirkan, burnout sering di sertai perasaan bersalah. Pekerja merasa dirinya lemah karena tidak mampu “bertahan” seperti orang lain. Padahal masalah utamanya adalah sistem dan beban kerja yang tidak sehat.
Kesadaran Dan Budaya Kerja Sehat Jadi Kunci Pencegahan
Para ahli sepakat bahwa langkah pertama mencegah burnout adalah berhenti menyepelekan stres. Mengenali sinyal tubuh dan pikiran adalah bentuk kepedulian terhadap diri sendiri. Namun bukan tanda ketidakmampuan. Di sisi lain, perusahaan juga memegang peran penting. Budaya kerja yang sehat, komunikasi terbuka. Kemudian dengan pembagian beban kerja yang realistis. Serta dukungan kesehatan mental dapat menjadi tameng utama bagi pekerja.
Lingkungan kerja yang menghargai keseimbangan hidup tidak hanya melindungi karyawan. Akan tetapi juga meningkatkan kinerja jangka panjang. Bagi individu, mengelola stres bisa di mulai dari hal sederhana: menetapkan batas kerja, beristirahat tanpa rasa bersalah. Dan berani mencari bantuan profesional bila di perlukan. Menganggap stres sebagai hal “biasa” mungkin terasa praktis. Akan tetapi risikonya nyata. Burnout bukan tanda kurang kuat, melainkan sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu di benahi.
Maka dengan risiko burnout yang nyata khususnya bagi pekerja yang bisa stres akut, jadi sebaiknya jangan anggap sepele terkait Stop.