
Kegagalan Konservasi: Alam Global Di Ujung Tanduk
Kegagalan Konservasi: Alam Global Di Ujung Tanduk Dengan Berbagai Krisisnya Keanekaragaman Hayati Hingga Kini. Halo Para Pelindung Bumi dan Pengambil Keputusan! Selama ini, kita sering disuguhi kabar optimis tentang upaya penyelamatan planet. Terlebih dengan dana besar di kucurkan, komitmen global di teken. Dan juga proyeknya di seluruh dunia terus berjalan. Namun, hari ini, kita harus menghadapi kenyataan pahit yang mengejutkan. Laporan terbaru menguak fakta kelam. Serta proyek-proyeknya di dunia secara diam-diam telah gagal mencapai target ambisius mereka! Judul kita hari ini, “Kegagalan Konservasi: Alam Global di Ujung Tanduk,”. Namun bukan sekadar headline yang menakutkan, melainkan seruan darurat. Ini adalah pengakuan bahwa upaya kita selama ini, meskipun di danai miliaran. Terlebihnya belum cukup kuat untuk membendung laju kehancuran. Target-target penting untuk melindungi keanekaragaman hayati. Dan habitat kritis kini terancam tidak tercapai. Mari kita bedah bersama penyebab kegagalan ini dan apa yang harus segera kita lakukan.
Mengenai ulasan tentang Kegagalan Konservasi: alam global di ujung tanduk telah di lansir sebelumnya oleh kompas.com.
UNEP Nyatakan Aksi Iklim Global Belum Berhasil Menghentikan Deforestasi
Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNEP (United Nations Environment Programme). Terlebih yang menegaskan bahwa aksi iklim global saat ini belum berhasil menghentikan deforestasi. Dalam laporan terbarunya, UNEP menyoroti adanya kesenjangan besar antara komitmen yang sudah di umumkan negara-negara di dunia. Tentunya dengan kondisi nyata di lapangan. Banyak negara memang telah memasukkan rencana aksi iklim dalam Nationally Determined Contributions (NDC). Namun sebagian besar belum menempatkan perlindungan hutan dan ekosistem darat sebagai prioritas utama. Akibatnya, laju kehilangan hutan dunia masih terus meningkat. Serta dengan target global untuk menghentikan deforestasi pada tahun 2030 kini terancam gagal tercapai. Data yang di kutip UNEP menunjukkan bahwa deforestasi global masih terjadi di angka jutaan hektare setiap tahunnya. Bahkan angka ini yang mencapai lebih dari 6 juta hektare pada tahun 2023.
Kegagalan Konservasi: Alam Global Di Ujung Tanduk Dengan Berbagai Kenyataannya
Kemudian juga masih membahas Kegagalan Konservasi: Alam Global Di Ujung Tanduk Dengan Berbagai Kenyataannya. Dan fakta lainnya adalah:
Kebutuhan Pembiayaan Konservasi Besar, Tapi Realisasinya Di Bawah Kebutuhan
Hal ini seperti yang di tegaskan dalam laporan-laporan lembaga internasional termasuk UNEP. Tentunya adalah kesenjangan besar antara kebutuhan dan realisasi pembiayaan konservasi. Dunia saat ini di hadapkan pada tantangan besar dalam menjaga keanekaragaman hayati. Serta yang memulihkan ekosistem yang rusak, dan mengurangi dampak perubahan iklim. Namun, upaya tersebut memerlukan dana yang sangat besar. Sementara investasi nyata yang disalurkan masih jauh dari angka ideal yang di butuhkan. Menurut perhitungan lembaga-lembaga lingkungan dunia, termasuk UNEP, UNCCD, dan World Bank. Tentunya di butuhkan sekitar 700 miliar dolar AS per tahun untuk mendanai berbagai kegiatan konservasi. Serta pemulihan alam di seluruh dunia. Dana sebesar itu meliputi perlindungan hutan, restorasi lahan kritis, pengendalian degradasi, konservasi laut. Terlebihnya hingga rehabilitasi satwa liar dan ekosistem air tawar.
Namun kenyataannya, anggaran yang benar-benar tersedia hanya mencapai sebagian kecil dari kebutuhan tersebut. Dan sebagian besar bersumber dari anggaran publik. Namun bukan dari investasi swasta atau mekanisme pembiayaan berkelanjutan. Kesenjangan ini semakin terasa karena banyak proyek konservasi bergantung pada hibah atau bantuan internasional jangka pendek. Pendanaan semacam itu sering kali tidak cukup untuk menopang keberlanjutan proyek. Terutama di negara-negara berkembang yang memiliki wilayah hutan atau keanekaragaman hayati sangat tinggi. Misalnya, berbagai program restorasi lahan di Asia, Afrika, dan Amerika Latin sering terhenti. Karena kekurangan dana operasional dan teknis. Sementara itu, lembaga keuangan global belum secara signifikan. Terlebihnya mengalihkan investasi mereka dari sektor ekstraktif seperti pertambangan, minyak. Dan perkebunan besar menuju sektor konservasi dan solusi berbasis alam. UNEP juga mencatat bahwa kontribusi sektor swasta terhadap pendanaan konservasi masih sangat minim, di perkirakan hanya sekitar 6 persen.
Rahasia Di Balik Konservasi: Pengerjaan Global Tak Berhasil Lindungi Alam
Selain itu, masih membahas Rahasia Di Balik Konservasi: Pengerjaan Global Tak Berhasil Lindungi Alam. Dan fakta lainnya adalah:
Target Perlindungan Kawasan Alam Masih Sangat Belum Jelas
Salah satu masalah terbesarnya adalah ketidakjelasan target perlindungan kawasan alam. Meskipun komunitas internasional telah menyepakati berbagai komitmen ambisius. Terlebihnya seperti melindungi 30 persen wilayah darat dan laut dunia pada tahun 2030. Atau yang di kenal dengan Target 30×30. Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa arah, strategi. Dan implementasi dari target tersebut masih sangat kabur dan belum terstruktur dengan baik. Komitmen global seperti Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework yang di sahkan pada Konferensi Keanekaragaman Hayati PBB (COP15). Karena sebenarnya memberikan harapan besar. Target tersebut di maksudkan untuk melindungi keanekaragaman hayati yang terus menurun. Dan menekan laju kepunahan spesies. Namun, setelah hampir dua tahun berjalan. Serta banyak negara belum memiliki peta jalan nasional yang jelas tentang kawasan mana yang akan di lindungi. tentunya bagaimana mekanisme pengelolaannya.
Dan siapa yang bertanggung jawab secara langsung atas implementasinya. Akibatnya, target besar yang semula tampak ambisius berpotensi. Karena hanya menjadi simbol politik tanpa dampak konkret di lapangan. UNEP dan sejumlah lembaga konservasi seperti World Resources Institute (WRI) dan IUCN menyoroti bahwa banyak rencana perlindungan masih berhenti pada tahap deklaratif. Negara-negara memang mencantumkan niat untuk memperluas kawasan lindung. Akan tetapi tidak di ikuti dengan blueprint teknis, data spasial yang akurat, maupun pendanaan. Dan kebijakan pengawasan yang memadai. Beberapa negara bahkan belum memperbarui data keanekaragaman hayati mereka selama bertahun-tahun. Sehingga keputusan tentang kawasan yang perlu di lindungi seringkali tidak berdasarkan prioritas ekologis yang nyata. Selain itu, definisi tentang “kawasan terlindung” sendiri masih berbeda-beda antarnegara. Ada yang memasukkan taman nasional, hutan adat. Dan kawasan konservasi laut, hingga wilayah dengan perlindungan terbatas. Sementara yang lain hanya menghitung.
Rahasia Di Balik Konservasi: Pengerjaan Global Tak Berhasil Lindungi Alam Hingga Saat Ini
Selanjutnya juga masih membahas Rahasia Di Balik Konservasi: Pengerjaan Global Tak Berhasil Lindungi Alam Hingga Saat Ini. Dan fakta lainnya adalah:
Ekosistem Dan Lahan Terus Terdegradasi
Hal ini adalah kenyataan bahwa ekosistem dan lahan di berbagai belahan dunia terus mengalami degradasi. Meskipun banyak inisiatif konservasi dan restorasi sudah di jalankan selama bertahun-tahun. Dan kenyataannya kerusakan alam berlangsung lebih cepat daripada upaya pemulihannya. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap masa depan keanekaragaman hayati. Serta dengan ketahanan pangan, dan keseimbangan iklim global. Laporan-laporan internasional dari lembaga seperti UNEP, FAO, dan UNCCD menunjukkan bahwa hingga saat ini. Tentunya lebih dari 1,5 miliar hektare lahan di dunia telah terdegradasi. Maka hal ini setara dengan luas gabungan Rusia dan India. Degradasi tersebut meliputi deforestasi, penggurunan, penurunan kualitas tanah, pencemaran air. Dan hilangnya fungsi ekosistem alami.
Penyebab utamanya antara lain adalah aktivitas manusia yang tidak terkendali. Terlebihnya seperti ekspansi pertanian industri, penebangan liar, pertambangan terbuka. Kemudian urbanisasi yang tidak terencana, serta pembakaran lahan. Lahan yang terdegradasi tidak hanya kehilangan kemampuan alaminya untuk menopang kehidupan tumbuhan dan hewan. Akan tetapi juga kehilangan kapasitasnya untuk menyerap karbon. Akibatnya, degradasi ekosistem berkontribusi besar terhadap perubahan iklim. Karena melepaskan karbon yang tersimpan di dalam tanah dan vegetasi. Dalam konteks ini, kegagalan proyek konservasi menjadi semakin nyata. Dan di satu sisi dunia berkomitmen untuk menurunkan emisi karbon. Namun di sisi lain justru kehilangan jutaan hektare lahan penyerap karbon setiap tahun. Selain berdampak pada iklim, degradasi lahan juga mengancam ketahanan pangan dan sumber air bersih.
Jadi itu dia beberapa fakta mengenai alam global yang di ujung tanduk akibat Kegagalan Konservasi.