Longsor Putus Akses Utama Desa Tempur, Warga Jepara Terisolasi

Longsor Terjadi di Kabupaten Jepara Akibat Hujan Berintensitas Tinggi, Sehingga Akses Jalan Terputus dan Aktivitas Warga Terganggu.

Longsor Terjadi di Kabupaten Jepara Akibat Hujan Berintensitas Tinggi, Sehingga Akses Jalan Terputus dan Aktivitas Warga Terganggu. Material tanah dan bebatuan menutup badan jalan serta merusak infrastruktur penghubung antardesa, sehingga mobilitas masyarakat terhambat dan sejumlah wilayah terancam terisolasi.

Bencana tanah Longsor kembali melanda wilayah Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Kali ini, Desa Tempur di Kecamatan Keling menjadi salah satu daerah yang terdampak paling parah. Puluhan titik longsor di laporkan menutup akses jalan utama yang selama ini menjadi satu-satunya jalur penghubung warga menuju pusat kota maupun daerah lain. Akibatnya, aktivitas masyarakat lumpuh dan ribuan warga terancam terisolasi.

Longsor terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan pegunungan Muria sejak beberapa hari sebelumnya. Struktur tanah yang labil serta kontur wilayah yang curam membuat Desa Tempur menjadi daerah rawan bencana. Peristiwa longsor besar tercatat terjadi pada Jumat (9/1), dan dampaknya masih di rasakan hingga kini.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara, Arwin Noor Isdiyanto, menyatakan bahwa longsor di Desa Tempur menutup hampir seluruh akses vital warga. Jalan yang selama ini di gunakan sebagai jalur utama menuju Kota Jepara tertimbun material tanah dan bebatuan, sehingga tidak bisa di lalui kendaraan roda empat.

“Dampak longsor sangat di rasakan warga karena jalur tersebut merupakan satu-satunya akses keluar masuk desa. Untuk sementara hanya sepeda motor yang masih bisa melintas, itu pun dengan risiko tinggi,” ujar Arwin saat di temui di Jepara, Sabtu.

Jalan Hanyut dan Jembatan Rusak, Akses Darurat Sangat Terbatas

Jalan Hanyut dan Jembatan Rusak, Akses Darurat Sangat Terbatas menjadi gambaran kondisi infrastruktur di wilayah terdampak longsor di Kabupaten Jepara, menyusul rusaknya sejumlah ruas jalan dan jembatan akibat terjangan material longsor dan derasnya aliran sungai. Kondisi tersebut membuat akses warga semakin terbatas dan hanya dapat di lalui secara darurat dengan tingkat risiko yang tinggi.

Selain longsor yang menutup badan jalan, kerusakan parah juga terjadi di sejumlah titik krusial. Salah satunya berada di kawasan Kedung Ombo, di mana badan jalan sepanjang sekitar 60 hingga 70 meter di laporkan hanyut terbawa arus sungai akibat derasnya aliran air.

Saat ini, hanya tersisa bahu jalan dengan lebar sekitar 50 sentimeter yang di manfaatkan warga sebagai jalur darurat. Kondisi tersebut di nilai sangat berbahaya, terutama bagi pengendara sepeda motor. Banyak warga memilih tidak melintas karena khawatir tergelincir dan terjatuh ke sungai.

“Yang berani melintas hanya sebagian kecil warga, itu pun harus ekstra hati-hati. Sementara pejalan kaki sebagian besar memilih tidak melewati jalur ini karena risikonya terlalu besar,” kata Arwin.

Kerusakan juga di laporkan terjadi pada sejumlah jembatan. Pagar jembatan tersapu material longsor, sementara struktur di beberapa titik mengalami retakan serius. Bahkan, di beberapa lokasi, alur sungai di laporkan berpindah akibat tertutup material tanah, sehingga menggerus permukiman warga yang berada di bantaran.

Meski demikian, BPBD bersama unsur TNI, Polri, relawan, dan warga setempat telah melakukan upaya pembersihan material longsor di sejumlah titik. Hasilnya, akses menuju kawasan Kedung Ombo kini sudah bisa di lewati sepeda motor, meski masih bersifat darurat dan sangat terbatas.

BPBD Jepara terus memantau kondisi di lapangan untuk mencegah terjadinya longsor susulan. Selain membersihkan material, mereka juga menyiapkan peringatan dini dan koordinasi dengan warga setempat.

Puluhan Titik Longsor, Ribuan Warga Terancam Terisolasi

Puluhan Titik Longsor, Ribuan Warga Terancam Terisolasi menjadi kondisi darurat yang kini di hadapi warga Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, setelah bencana longsor melanda kawasan tersebut. Terputusnya akses jalan utama dan rusaknya infrastruktur penghubung membuat mobilitas warga terganggu serta menghambat distribusi logistik dan layanan dasar.

Berdasarkan hasil pendataan sementara BPBD Kabupaten Jepara, longsor di Desa Tempur terjadi di puluhan titik. Dari jumlah tersebut, 18 titik di kategorikan sebagai longsor besar karena menutup badan jalan secara total atau menyebabkan kerusakan infrastruktur vital.

Material longsor bervariasi, dengan panjang timbunan mulai dari 6 meter hingga lebih dari 100 meter, serta ketebalan antara 0,5 hingga 2 meter. Kondisi ini membuat proses penanganan menjadi tidak mudah, terlebih cuaca di wilayah tersebut masih berpotensi hujan.

Akibat longsor ini, sedikitnya 3.500 warga Desa Tempur terancam terisolasi. Akses logistik, layanan kesehatan, pendidikan, dan aktivitas ekonomi warga terganggu. Sejumlah warga mengaku kesulitan menjual hasil pertanian dan memenuhi kebutuhan pokok karena jalur distribusi terputus.

“Kalau kondisi ini berlarut-larut, dampaknya akan sangat besar bagi masyarakat. Banyak warga yang menggantungkan hidup dari hasil kebun dan pertanian, sementara akses ke pasar tertutup,” ujar salah satu tokoh masyarakat setempat.

BPBD Jepara menilai bahwa Desa Tempur merupakan wilayah dengan tingkat kerawanan longsor tinggi. Selain faktor curah hujan, kondisi geografis berupa perbukitan curam dan minimnya vegetasi penahan tanah turut memperbesar potensi terjadinya longsor susulan.

Upaya Darurat dan Jalur Alternatif, Warga di Minta Tetap Waspada

Upaya Darurat dan Jalur Alternatif, Warga Diminta Tetap Waspada menjadi fokus penanganan pemerintah daerah menyusul longsor yang masih mengancam keselamatan warga Desa Tempur, Kabupaten Jepara. Cuaca yang belum stabil membuat potensi bencana susulan masih tinggi. Masyarakat pun diimbau membatasi aktivitas di jalur rawan sambil menunggu penanganan darurat dan pembukaan akses alternatif.

Untuk mengantisipasi kondisi terburuk, BPBD Kabupaten Jepara menyiapkan sejumlah langkah darurat. Salah satunya adalah pemasangan perahu yang diikat dengan tali. Sarana ini disiapkan sebagai jalur penyeberangan sementara jika akses darurat kembali tergerus banjir.

“Kami berharap bahu jalan yang masih ada tidak kembali rusak. Namun jika kondisi memburuk, kami sudah menyiapkan alternatif agar warga tetap bisa beraktivitas,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Jepara, Arwin Noor Isdiyanto.

BPBD juga berkoordinasi dengan pemuda setempat dan komunitas motor trail di wilayah Damarwulan. Mereka membantu menelusuri jalur alternatif yang di rencanakan melalui Medono dan tembus ke jalur atas menuju Dukuh Duplak. Jika jalur tersebut di nilai aman, alat berat akan di kirim untuk perapian agar bisa di gunakan sementara.

Langkah ini di harapkan mampu mengurangi risiko isolasi warga. Penanganan bersifat sementara sambil menunggu perbaikan permanen dari pemerintah daerah dan provinsi. Meski demikian, BPBD menegaskan bahwa aspek keselamatan tetap menjadi prioritas utama.

Masyarakat di minta meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan deras. Aktivitas melintasi jalur rawan longsor sebaiknya di batasi. Warga juga di harapkan mengikuti arahan petugas demi menghindari korban jiwa.

“Kami mengajak warga tetap waspada dan tidak memaksakan diri melintas di jalur berbahaya. Keselamatan adalah yang utama,” tegas Arwin.

Peristiwa longsor di Desa Tempur menjadi pengingat pentingnya penguatan mitigasi di wilayah rawan. Penataan lingkungan, perbaikan infrastruktur, dan kesiapsiagaan masyarakat perlu di tingkatkan. Pemerintah daerah di harapkan segera mengambil langkah strategis agar akses warga kembali normal dan aktivitas sosial ekonomi pulih secara bertahap pascabencana Longsor.